

PERAWATKU YANG HITAM MANIS (#3)

 

 

Setelah persetubuhanku dengan Narsih di pantai kota S, hubunganku dengan Narsih makin intim dan liar. Setiap ada kesempatan aku menggumulinya, di mana pun tempatnya, kecuali di kantor. Aku bisa menyetubuhi Narsih di rumah (tapi tak pernah di rumah Narsih), di dalam mobil di pinggir jalan raya, di pinggir hutan, atau di pinggir pantai, di motel atau hotel di beberapa kota (di antaranya kota S, P, Md, Ml, atau J). Malah aku pernah menyetubuhinya dalam keadaan menstruasi. Itu pun tidak terasa mengganggu, tetap terasa nyaman bagi kami berdua, sebab bagi kami prinsipnya semuanya dilakukan dalam kondisi kemaluan yang bersih.

Suatu saat, siang hari pukul satu, aku harus ke teman sejawatku di puskesmas lain se kabupaten yang cukup jauh dari puskesmasku untuk suatu keperluan yang berkaitan dengan pekerjaan. Aku mengajak Narsih karena memang aku perlu bantuannya. Perjalanan itu melewati hutan jati yang berbukit-bukit dan berliku tetapi aspalnya cukup mulus. Jarang sekali kendaraan atau orang yang melintasi daerah itu.

Persis ketika mobilku melintas hutan yang sepi itu, aku mulai tergoda melihat Narsih yang ada di sisiku. Dengan tangan kananku tetap menyetir, tangan kiriku mulai bergerilya mengelus-elus paha Narsih yang ada di balik roknya. Roknya kusingkap ke atas, sehingga pahanya yang mulus sedikit gelap terpampang jelas di mata ku. Narsih kuminta untuk mencopot celana dalamnya. "Pa, hayo apa-apaan ini, koq main-main di jalan raya?" katanya. "Sudahlah Sih, aku sudah ngaceng lho.", jawabku. "Hati-hati pa, lihat jalan, atau kita berhenti saja.", dia memperingatkanku. Karena aku harus segera sampai ke tujuan, aku jawab: "Nggak usah, berhentinya nanti saja sepulang dari sana, nanti keburu ditinggal pergi oleh dokter Herman, 'kan rugi kalau sudah jauh-jauh tapi gagal ketemu." Narsih diam saja mendengar jawabanku itu, dan pelan-pelan dicopotnya celana dalamnya dan dimasukkan ke dalam tas tangannya. Begitu Narsih tak lagi memakai celana dalam, segera tangan kiriku makin naik menyusuri pahanya dan menyerobot masuk ke selangkangannya, kucari vaginanya, dan mulai kugeser-geser bibir tempiknya. Mulai terangsang, tangan kanan Narsih berpindah ke kontolku yang masih tertutup celana dinas. Merasakan tangannya yang mulai mengelus-elus kontol, aku bilang: "Sih, buka saja celanaku, sabuknya dilepas dulu, ayo ...". Narsih mulai melepaskan ikat pinggang dan resleting celanaku, setelah itu tangannya langsung menyelusup ke balik celana dalamku tanpa dilepasnya. Aku merasakan nikmatnya kontol yang dipijat halus oleh tangannya. Jari-jariku sendiri makin liar mengubek-ubek tempik Narsih, sampai dia mulai mendesis seperti biasanya: "Aaah paaah, kamu nakal paaaah ...". Narsih mulai menggeliat kenikmatan, dan tempiknya makin basah dan licin, sehingga jari telunjukku makin bebas menerobos masuk liangnya. Kelentitnya pun berhasil kumanipulasi dengan jari tengahku. Narsih makin menggeliat, "Paaaaah, aku nggaaak kuuaat lho paaaah. Berhenti saja di pinggir paaah, aku nggak kuuuaaaat paaah", dia memohon tanpa sadar tangan kanannya memeras kontolku kuat-kuat, sehingga aku terkaget. Sebetulnya aku ingin menuruti permintaannya agar berhenti di tepi jalan, dan ngeseks di situ, tapi mengingat waktu, permintaannya sementara tak kuhiraukan. Mobil tetap kujalankan pelan, sekali-sekali berpapasan dengan motor atau truk. Dengan kadang-kadang kupakai untuk mengoper persneling, tangan kiriku tetap mengubek-ubek vaginanya yang makin basah. Narsih makin mengerang, sehingga akhirnya tangan kanannya melepas kontolku, dan kursi yang didudukinya direbahkannya sehingga Narsih berposisi agak berbaring, dan pantatnya dinaikkan karena rangsangan yang tak kuat ditahannya, "Aaaaccrhh paaaah, kamu menyiksa aku paaaah, aku sudah kepingin paaaah, ayo paaaah, sekarang saja kita main paaah....", rintihnya. Rok luar dan dalam bagian depan kusingkap makin ke atas, sehingga tempik Narsih langsung tampak menyembul merekah, dengan tangan kiriku masih mengubek-ubek di dalamnya. Narsih terpejam menahan birahinya yang kelihatan makin menggelegak Aku sudah paham betul bagaimana raut wajah Narsih ketika terangsang kuat oleh birahi. Dia makin mendesah. Melihat wajah seperti itu aku pun makin bernafsu, sayang, tangan Narsih sudah dilepaskannya dari kontolku yang sebetulnya menghendaki kocokan agar aku pun bisa merasakan nikmatnya permainan ini sampai orgasme. Tempik Narsih makin basah dan makin basah saja. Tanganku tak berhenti memutar-mutar ujung kelentitnya, "Paaaaaah, aaaaddduuuuh paaaaah, aaaakuuu nggaaaak taaaahaaaan paaaaah, aku .. aku .... hampir sampaaaiii paaaah ... oooooooocchhhh paaaah ...". Pantat Narsih makin naik, tempiknya makin merekah, dan tiba-tiba tubuhnya bergetar, dan pantatnya jatuh ke jok dan lemas. Orgasmelah dia, "Aaaacchhhh ... sssshhhhh .. hhehhhh ... paaaah .. ooooooocchhhh ....". Dan wajahnya kemudian direbahkan ke kedua pahaku dan pipinya ditempelkan ke kontolku yang masih ngaceng. Tanganku pun kulepaskan dari tempiknya. Kubiarkan Narsih terengah-engah lemas di pangkuanku. Kuelus-elus sayang rambutnya yang sebahu itu. Kupercepat laju mobilku.

Mendekati tujuan, aku merapikan baju dan celanaku, tetapi Narsih nggak sempat memasang kembali celana dalamnya, karena dia kelelahan dan agak tertidur di pangkuanku. Ah, biar saja, siapa sih yang tahu Narsih nggak pakai celana dalam, kecuali kalau dia menyingkapkan roknya.

Aku cukup lama di rumah dinas sejawatku tadi, ngobrol kesana-kemari, karena dia dulu adalah seniorku di fakultas kedokteran. Setelah keperluanku selesai, aku pamit pulang. Hari sudah sore, pukul empat.

Di tengah perjalanan pulang, jalan di tengah hutan makin sepi karena sudah senja. Birahiku timbul kembali melihat suasana senja yang indah di hutan yang sejuk itu. Aku mulai merangsang Narsih kembali dengan membuka kancing-kancing baju dinasnya (sejak mulai berangkat pulang Narsih sudah merebahkan jok depan, dia dalam posisi setengah berbaring sambil memejamkan mata, karena ngantuk). Narsih tersadar akibat gerakan tanganku yang mulai meraba-raba BH nya. "Hayo ... mulai lagi ... nakal ih", katanya. Aku nggak peduli, kontolku mulai ngaceng lagi. Di tempat yang agak datar dan cukup aman, mobil kutepikan agak menjorok ke arah hutan. Kemudian dengan cepat celanaku kubuka. BH Narsih kusingkap ke atas, sehingga susunya menyembul dengan indahnya, langsung kuisap dengan lembut puting kanannya. Narsih mulai mendesah lagi, "Paaaah ... aaaccchhh ...". Rok luar-dalam Narsih yang tak bercelana dalam kusingkap sama sekali ke atas sampai terlihat pusarnya, lidahku berpindah dari pentil susu ke paha Narsih, kujilati dan kugigit-gigit sampai Narsih sedikit menjerit, "Paaaah ....". Selangkangannya kurenggangkan, pelan-pelan bibirku kuarahkan ke vaginanya yang sudah terpampang indah bagai bunga merekah di depan mataku. Birahiku makin memuncak. Kulumat habis-habisan liang tempik Narsih, sehingga dia makin mengerang setengah berteriak, "Aaaaduuuh paaaah ... cepet paaah, main saja yuuuk ... oooooch ....". Aku tak menggubris erangannya, klitorisnya kusergap dengan lidahku dan kupilin-pilin, Narsih merespons gerakan lidahku dengan makin mengangkat pantatnya sambil terus mengerang. Sudah nggak tahan lagi, aku berpindah tempat dari jok kanan ke jok kiri dan menindih tubuh Narsih yang setengah bugil dan mengangkang itu. Celana dalamku langsung kupelorot tanpa kulepas, dan dibantu dengan tangan Narsih yang sudah nggak sabar, kontolku kumasukkan pelan-pelan ke tempiknya yang sudah licin tapi kenyal itu. "Aaaach paaah .... Papa sayang Narsih paaaah?" dia bertanya. "Mengapa kamu tanya itu ... jelas sayang dong .. aaah eeenaaak Siiih ..." aku menjawab sambil mendesis keenakan.

Kontolku kumaju mundurkan dengan teratur, tanpa peduli pada beberapa kendaraan yang melintas di jalan itu. Bibirku melumat bibir Narsih yang mendesah-desah dan tubuhnya terus menggeliat. Agar aku mudah bermanuver, jok kurebahkan dan kumundurkan posisinya maksimal ke belakang. Hebatnya, walau pun dalam posisi yang tak terlalu menguntungkan karena sempit, Narsih tetap bisa membuat gerakan yang lumayan. Kedua kakinya dilingkarkannya ke pinggangku sehingga kontolku bisa tandas membenam ke dasar vaginanya. Enak juga posisi ini, dan suasana di tepi hutan lumayan romantis. Asyik dan unik. Agar lebih nyaman, kancing-kancing baju atasku kucopot walau pun baju tidak kulepas, demikian pula kulepas kaitan belakang BH Narsih dan kemudian BH nya kucopot sama sekali, sehingga dada telanjang kami bisa bersentuhan langsung. Kedua tangan Narsih dilingkarkan erat ke punggungku melalui sela-sela bajuku. Kami betul-betul bersatu, menjadi satu tubuh, bersetubuh, walau pun tidak bugil total. Kunikmati persetubuhanku kali ini dengan rasa sayang. Kuciumi rambutnya, belakang telinganya yang membuat Narsih terhentak-hentak mengelinjangkan pantatnya sehingga kontolku makin terkenyot oleh tempiknya yang melebar maksimal. "Aku makin saaayaaaang kamu papaaa ... aku nggak mau dipisahkan dari kamu paaah, aku cinta kamu paaaah ... kamu enak paaaaah ... aaaaaaacchhhhhhhh paaaah," erangnya sambil memejamkan mata. Tangannya makin erat merangkulku. Punggungku dicengkeramnya kuat. Keringat mulai bercucuran dari dada tubuh kami. Dada kami makin licin, sehingga gesekan antara dadaku dengan kedua susu Narsih yang kenyal itu makin terasa enak dan merangsang.

Kontolku makin kupercepat gerakannya. Narsih makin menggelinjang dan dadanya dibusungkan sehingga kepalanya terkulai ke belakang. Posisi tubuhnya makin terlihat seksi. "Aaaayoooo paaaah, aaaakuuu hampir orgasme lagi paaaah ..... ". Lingkaran kakinya makin dipererat sehingga pinggangku terjepit kuat, kontolku makin terbenam dalam. Aku pun terangsang hebat, rasa geli sudah pula mulai menjalar di seluruh tubuhku dan berakhir di ujung kontol. "Aku juga mau keluuuaaaaaar Siiiiiih .... Ayo Siiih goyang pantatmu Siih, kocoook yang keras Siiih ....". Narsih menggeliatkan pantatnya kesana kemari sambil kedua tangan dan kakinya makin menjepitku erat. Aku makin merasakan keindahan percintaan dan persetubuhanku dengan Narsih. Sebentar kemudian, Narsih berteriak hampir bersamaan dengan lenguhanku juga, "Oooooiiiich paaaah Narsih eeeeenaaaaak paaaaah ...., saaaaampaaaai paaaah .....". Aku merasakan cakaran kuku-kuku jari tangannya di punggungku. "Akuu juuugaaaa Siiiih, ayo Siiiih rapatkan dan tekan lagi Siiiiih, aaaarrgggggh ..... hhhhhhh .... Hhhhh ...", aku pun menyemprotkan spermaku kuat-kuat ke dalam vagina Narsih. "Semproooot keras-keras paaaah, aaakuuuu saaa ... saaaaayaaaaang paaaapaaaaaaah .... Ooooooohh ...".

Keringat kami membasahi seluruh tubuh, dada kami yang bersatu seperti diberi pelumas oleh peluh kami berdua. Angin berdesir dari luar mobil masuk ke sela-sela ke empat jendela mobil yang sedikit kubuka agar terasa sejuk. Oh indahnya persetubuhanku kali ini di tengah hutan jati yang lebat di atas bukit.

Aku tidak segera melepas kontolku dari tempik Narsih. Tangan Narsih sudah terkulai ke pinggir jok, demikian pula kakinya sudah berselonjor ke lantai mobil sambil mengangkang lemas. Sekali-sekali kuelus rambut dan dahi kekasih gelapku ini. Sekali-sekali kuciumi bibir dan wajahnya yang berkeringat deras. Demikian pula buah dadanya yang licin mengkilat oleh peluh sekali-sekali kubelai dan kucium lembut. Narsih tersenyum manis. Dia tampak sangat puas memadu cinta denganku meski bukan di tempat yang wajar.

Setelah berkemas, kami pulang dengan pikiran yang nyaman. Sesampai di rumah istriku mau pun suami Narsih tak mencurigai apa saja yang telah kami perbuat hari itu.

Dari hari ke hari, menurut pandanganku, Narsih makin seksi, makin manis dan makin menggairahkan. Benar kata orang, bahwa biasanya seorang wanita yang sedang jatuh cinta akan lebih cantik dan ceria, Narsih pun begitu, saat itu dia 'kan sedang jatuh cinta berat padaku. Aku pun makin sayang padanya, sampai-sampai aku sering 'cemburu' bila saat dibonceng motor suaminya kulihat dia melingkarkan tangan ke pinggang sang suami. Setelah kukatakan padanya bahwa aku 'cemburu' melihat pemandangan seperti itu, maka dia tak lagi pernah melingkarkan tangan ke pinggang suaminya bila melewati depan rumahku. Lucu juga jadinya. Rupanya dia lebih mencintaiku daripada suaminya. Buktinya, Narsih selalu menuruti setiap keinginanku, termasuk menghentikan kebiasaannya mandi bareng dengan suaminya, karena aku tidak suka itu.

Aku tidak pernah ingin merusak rumahtangganya (hubunganku dengan suaminya sangat baik, kami biasa saling membantu pada saat-saat diperlukan), sebab aku pun tidak ingin rumahtanggaku rusak gara-gara perselingkuhanku dengan Narsih. Sebesar apa pun cintaku pada Narsih, aku masih tetap mencintai istri, anak, dan keluargaku. Bagiku cinta sebetulnya bisa dibagi, dengan kualitas yang sama penuhnya. Aku tetap ingin keluargaku utuh, sementara aku tetap bisa menyetubuhi kekasihku Narsih kapan saja aku ingin.

Di samping itu, perselingkuhan antara aku sebagai pimpinan puskesmas dengan Narsih yang perawat bawahanku tidak boleh mengganggu pekerjaan kantor yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan masyarakat. Kalau pun kami 'terpaksa' harus meninggalkan kantor untuk melampiaskan hasrat seksual di tempat lain pada saat jam kantor, terlebih dulu kupastikan bahwa ada petugas pengganti yang standby sehingga pelayanan tidak terganggu. Biasanya aku meninggalkan kantor pada jam-jam saat pasien sudah sedikit, atau pada hari-hari aku sedang tidak ada kegiatan ke lapangan. Semua kegiatanku termasuk bercinta dengan Narsih selalu kurencanakan rapi jauh sebelumnya (paling cepat 4-5 hari sebelumnya), sehingga semuanya beres. Pekerjaan beres, percintaan beres, dan, yang penting, tidak seorang pun mencurigai hubungan gelap kami.

Untuk komunikasi, kami masing-masing kebetulan memiliki HT (handy talky) 2 meteran ORARI (waktu itu belum ada telepon di daerahku, apalagi handphone), sehingga kapan pun aku bisa menghubunginya dengan mudah.

Suatu saat Narsih harus mengikuti pelatihan keperawatan berkelanjutan di kota Mg yang sangat jauh dari rumah selama satu bulan. Bisa dibayangkan bagaimana kangenku padanya (saya kira Narsih juga mempunyai perasaan yang sama). Memang sih, dia setiap Sabtu sore pulang ke rumah dan Minggu sore balik ke Mg. Tapi saat dia pulang jelas tidak mungkin kugunakan untuk bertemu memadu cinta. Kesempatan kami bertemu selama ini hanya pada hari kerja. Tapi aku tak kurang akal. Ketika kebetulan istriku punya rencana mengantar anakku ke neneknya yang ada di kota J selama seminggu pada minggu depan, aku membuat janji dengan Narsih yang ada di Mg melalui telekomunikasi radio (HT), agar bilang pada suami untuk tidak pulang pada Sabtu-Minggu depan dengan dalih ada acara di pelatihan itu. Nah, pada saat itu aku bikin janji untuk menjemputnya di suatu tempat untuk kuajak menginap semalam di P, kota kecil di pegunungan yang sejuk. Dia setuju dengan rencana itu.

Tepat pada hari perjanjian itu, istriku sudah tiga hari di J dan baru pulang empat hari lagi, sore hari aku meluncur ke tempat rendezvous dan menunggu Narsih datang dengan bus dari Mg. Sekitar dua jam aku menunggu, benarlah Narsih datang dengan celana jin dan t-shirt ketat yang menambah keseksian dan kemanisannya. Ternyata tak salah aku mempunyai kekasih Narsih yang bisa dipamerkan (Tapi akan dipamerkan kepada siapa? Narsih pun bukan milikku.). Selama ini, terlihat jelas banyak lelaki yang memandang Narsih dengan kagum (mungkin sambil menelan ludah), terutama kalau dia sedang tak berseragam dinas hansip. Narsih berpenampilan cukup modis dan serasi dalam berpakaian, ditunjang pula oleh bentuk tubuh dan wajah yang menarik. Walau pun Narsih tinggal di desa kecamatan, dia tak kalah dengan 'wanita kota', juga tak kalah dengan istriku yang lumayan cantik. Bedanya Narsih hitam manis, istriku kuning ayu. Tapi Narsih mempunyai kelebihan, yaitu lebih seksi dan jauh lebih panas (tentu, lebih memuaskan) di tempat tidur. Soal intelejensia kukira Narsih tidak kalah dengan istriku (tampak dari cara mengemukakan pendapat dan apa isi pendapatnya), kekurangannya dibandingkan istriku tentu saja adalah tingkat pendidikannya.

Narsih langsung masuk ke mobil, dan kami segera meluncur ke P yang sejuk. Di jalan, tak henti-hentinya Narsih menyandarkan kepalanya di bahuku dan sekali-sekali mencium pipi dan telinga kiriku dengan mesra. "Aku kangen pa, kita lama ya nggak ketemu, dua minggu lebih. Di Mg aku selalu memimpikan kamu pa. Anehnya Narsih sama sekali nggak pernah kangen pada Bakdi suamiku, apalagi mimpi dia.", katanya. "Kalau begitu, sama dong kangennya", ujarku senang.

Nakalnya, Narsih kadang-kadang secara tiba-tiba menyentuh dan meremas kontolku ketika aku lagi konsentrasi nyetir di jalan yang berkelok-kelok itu sampai aku terkaget-kaget.

Menjelang magrib, kami sampai di P dan kami mulai mencari-cari villa yang bisa disewa. Akhirnya ketemu sebuah villa yang cukup besar dan berpemandangan indah di sekitarnya, dengan harga sewa yang tak terlalu mahal. Halamannya cukup luas dengan garasi terpisah dari rumah cukup untuk dua mobil. Villa itu mempunyai 3 kamar tidur, salah satunya adalah kamar tidur utama dengan ukuran cukup luas 7 x 5 meter dengan kamar mandi dalam yang mempunyai bath tub dan shower dengan air panas-dingin. Di dalam kamar tidur utama terdapat lemari besar memanjang dengan cermin sepanjang salah satu dinding sejajar dengan sebuah ranjang besar. Dapur kering, ruang makan dan ruang tamu tidak dipisahkan oleh sekat apa pun. Pokoknya villa dengan kondisi yang lebih dari cukup untuk memadu cinta bersama kekasih sehari semalam.

Petang itu penjaga villa (suami-istri menjaga rumah itu di kamar belakang yang terpisah dengan rumah induk) kuminta membelikan makan malam dan makanan kecil, agar malam itu kami tak terganggu oleh tetek-bengek apa pun, sebab aku merencanakan menghabiskan akhir pekan ini dengan kenangan indah yang dahsyat tak terlupakan.


Saat magrib tiba, setelah mandi, Di petang yang dingin itu kami mulai bercengkerama bebas, saling memeluk, mencium dan menggoda di kamar. Lama-lama aku mulai tak tahan, karena sudah beberapa minggu tak ketemu, aku cepat beranjak panas. Di depan cermin rias, Narsih yang berdaster motif kembang dengan tali penutup dada di depan tanpa celana dalam dan tanpa BH dengan ganas sambil berdiri mulai kupeluk dari depan. Bibirnya kulumat dengan nafsu yang berkobar, Narsih pun membalas tak kalah panasnya. Sambil memilin lidahku, celana kolorku dipelorotnya cepat, dan mengacunglah kontolku dengan gagahnya, sebab aku tak memakai celana dalam. Aku pun melolosi tali depan daster Narsih, dan tersibaklah buah dadanya yang memungkal indah itu. Kedua pentil susunya segera kuserbu dengan jilatan lidahku, seluruh pentil dengan areolanya kukenyot dengan kuluman lidahku tanpa ampun. Narsih mengimbanginya dengan mengelus kontolku dengan pijatan-pijatan halus. Tubuh Narsih pun mulai menggelinjang tak teratur, sambil menggumam, "Aku kangeeen paaah .... ". Nafsuku memuncak tatkala mendengar gumamannya itu. Narsih kududukkan ke atas meja rias membelakangi cermin. Bagian bawah dasternya kusingkap jauh ke atas sampai kelihatan jembutnya yang tipis, dan pahanya kurenggangkan selebar mungkin dan perutku yang sudah telanjang kutaruh di sela-sela selangkangannya. Tangan kananku mulai mengelus jembut dan turun ke bawah ke lipatan selangkangan sampai menemukan liang yang mulai licin berlendir, jariku pun mengelus dan mengorek apa saja yang ada di sana. Narsih merintih cukup keras, "Paaaah, lama nggak begini ya paaaah ..., ooooccchh ... aaaargghhhh ....". T-shirtku yang masih kupakai dilepasnya, lalu dadaku yang sudah telanjang dengan rakusnya diciumi oleh Narsih. Aku yang gantian menggelinjang kegelian enak. "Aduuuh Siiiih ..., kamu pinter merangsang Siiih ..". Tak kalah dengannya, dasternya pun kulepas melalui kepalanya, sehingga sekarang kami berdua telanjang bulat. Pemandangan itu makin menaikkan birahi berlipat-kali karena kami bercumbu persis di depan cermin rias, sehingga seperti nonton blue-film. Rupanya Narsih sudah tak tahan lagi sehingga, tanpa permisi kontolku yang persis berada di depan vaginanya segera dimasukkannya ke liangnya. Aku yang juga tak sabar karena sudah begitu kangen dengan tempiknya, setuju saja. Dengan masih duduk di atas meja rias, Narsih sambil bertelekan dengan satu tangan di atas meja, tangan satunya menarik pantatku ke tubuhnya, sehingga cepat terbenamlah kontolku dalam-dalam ke tempiknya yang memang sejak tadi sudah siap. "Aaaachhh paaaaah ... eeenaaaak .... Goyang paaah .... Aku kangeeen ... ayo paaaah ...". Narsih memang tak pernah menyembunyikan ekspresinya ketika bersetubuh. Dia ucapkan semua yang dirasakannya secara lepas-bebas. Itulah yang membuatku makin lengket padanya. Sekarang kedua tangannya disandarkan pada meja, dadanya membusung dengan kepala agak terkulai ke belakang, betul-betul pemandangan yang indah dan begitu seksi. Kocokan kontolku kukontrol ritmenya, mundur sampai hampir terlepas, dan cepat kumasukkan lagi dalam-dalam, begitu di dalam kuputar dengan pangkal pubis kugeserkan ke klitorisnya. Begitu berkali-kali. Kurasakan enaknya gerakan ini, Narsih pun merasakan hal yang sama, dia makin mengerang dan merespons dengan memutar pinggulnya sambil menjepit pantatku dengan kedua kakinya. Keenakan, lebih-lebih dengan adanya tambahan rangsangan bayangan di cermin, aku menjadi mendengus, "Narsiiih ... kamu enaaak Narsiiih .... Kita bikin anak di sini ya Siiih .... Ssshhh ...". "Iya paaah ... aaaachhhh .... Teeeruuuus ... teeeruus paaaah ... ".

Merasa mau orgasme, kuhentikan gerakanku, sebab aku nggak mau mendahului Narsih yang belum sampai (aku kasihan pada Narsih kalau aku duluan selesai). Narsih kuminta turun dari meja, kontol kucabut, dan Narsih kuminta berbalik menghadap cermin. Pemandangan menjadi makin indah. Kurenggangkan selangkangannya sambil sedikit membungkuk, dan kumasukkan kontolku dari belakang. Narsih agak malu melihat dirinya di cermin dalam keadaan bugil disetubuhi seperti itu. Wajahnya yang malu-malu dengan keadaan polos seperti itu makin manis dan meningkatkan birahiku, apalagi melihat kedua susunya yang berukuran tak begitu besar itu menggantung bagus. Setelah kontolku masuk, tubuhnya agak kutegakkan, kedua tanganku kubawa ke depan dan kedua susunya kuraba dan sedikit kuremas, lehernya kujilat dari belakang, sehingga Narsih melenguh kembali, "Aaaduuuh paaaah ... kamu pintaaar paaah ... aaku ... aakuu ... eeenaaak paah ..". Tangan kiriku kuturunkan ke bawah mengocok kelentitnya, bersamaan dengan kocokan kontolku di vaginanya. Perlakuan itu kupertahankan beberapa lama sampai Narsih betul-betul nggak tahan, geliatannya menjadi tak teratur, dan teriakannya (betul-betul teriak!) makin keras, "Aaarrgghhhh paaaah, akuuu maaauu saaampaaai paaaah, ayo teeruuss ....", ibu jariku yang ada di dadanya dibawanya ke mulut dan diempotnya. Pemandangan di cermin makin asyik. Akhirnya, aku nggak tahan, "Aaayoo Siiih, aku keluuuaaar Siiih ..." "Aakuu juugaaa paaaah ... aaaccch oooooocccchhh ...... hhh ... hhhh .... Papa saaayaaaang .... Oooocchhh ... ", desahnya juga. Air maniku menyemprot beberapa kali, diterima dengan denyutan otot vagina Narsih yang nikmat. Tubuhku dan tubuh Narsih sama-sama berkelojotan di depan cermin. Wajahnya kutolehkan agak ke samping dan kucium mesra bibirnya ... lama sekali ...

Merasa capek, Narsih kubawa berbaring ke tempat tidur, kuambil selimut dan kututupkan pada kedua tubuh kami, lalu kupeluk dia berhadapan sambil kucium. Dia akhirnya tertidur dalam dekapanku.

Rupanya aku ikut tertidur. Begitu terbangun, kulihat jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam lebih. Lumayan lama aku tertidur. Narsih kulihat masih pulas, suara napasnya halus dengan ritme yang teratur. Capek sekali rupanya dia setelah mengalami perjalanan jauh dari Mg. Kucium pipinya dan kuelus rambutnya dengan rasa sayang. Wajahnya tetap manis.

Aku pipis dan membersihkan diri ke kamar mandi, dan ketika kulihat meja makan, di sana sudah tertata rapi makanan malam (pasti ditata oleh pak atau bu penjaga villa). Pikirku, "Jangan-jangan penjaga villa mendengar 'keramaian' di kamar tadi. Ah, biarin.". Aku menyeduh kopi dan secangkir teh manis hangat untuk Narsih. Tiba-tiba Narsih sudah ada di belakangku dengan berdaster. Kuajak dia makan bersama, karena perut kami sudah lapar.

Setelah makan malam, kami duduk-duduk di sofa kamar tamu sambil berangkulan, kepala Narsih di sandarkan ke bahuku. Inilah pengalaman pertama kami bisa menikmati suasana sesantai ini.

Malam itu pula aku mendengar segala problema Narsih yang menyangkut kehidupan keluarganya. Ayah Narsih ternyata sudah beberapa lama, sejak Narsih di SMP, meninggalkan keluarganya tanpa kabar berita, sehingga Narsih dan adik-adiknya (Narsih adalah sulung) kurang mendapatkan kasih sayang seorang ayah.

Katanya, dari diriku, selain mendapatkan kepuasan seks, dia telah mendapatkan kasih sayang penuh, yang selama ini didambakannya. Selain itu, aku dinilainya sebagai lelaki sejati yang bisa memperlakukan wanita dengan baik. Sikapku halus, galant dan menghormati wanita. Dia selama ini juga memperhatikan bagaimana sikapku terhadap wanita-wanita lain, seperti terhadap istriku, teman kantor, tetangga, atau pasien.

Kepribadian dan perilaku suaminya, Bakdi, dinilai sangat jauh tak sebanding denganku. Bakdi kekanak-kanakan, dan sangat tergantung pada orangtuanya. Narsih mengaku pernah mendapatkan perlakuan seksual secara semena-mena dari suaminya. Misalnya, beberapa kali Bakdi, ketika sedang berhubungan seksual, memaksa memasukkan seluruh kepalan tangannya yang besar ke dalam vagina Narsih. Aneh. Hal itu sangat menyakitkan baik secara fisik maupun mental, yaitu melecehkan harga dirinya sebagai wanita. Narsih merasa diperlakukan seperti pelacur oleh suaminya sendiri. Perlakuan-perlakuan semacam itu sudah dialami Narsih sejak beberapa bulan setelah menikah. Namun, karena baktinya pada sang suami, Narsih tidak banyak memprotes, dia hanya menangis saja. Dia sudah pernah menceritakan keadaannya kepada ibunya, tetapi ibunya meminta Narsih untuk tetap sabar. Demikian pula soal kehamilannya yang tak kunjung tiba, padahal dia sudah kawin lebih dari dua tahun.

Ketika Narsih menceritakan semuanya itu, tak terasa air matanya meleleh, dan akhirnya tersedu. "Aku kepingin mempunyai suami seperti papa Wawan. Istrimu sangat beruntung ya pa, mendapatkan suami seperti kamu. Tapi, aku nggak mau mengganggu kehidupan rumahtangga papa. Aku hanya ingin ikut merasakan kasih sayang papa yang tulus padaku. Tak lebih.", katanya. "Jujur aku katakan, Narsih juga selalu ingin berhubungan seks yang nikmat. Aku nggak pernah mendapatkan kepuasan sejati dari suamiku yang kasar itu. Mungkin aku hiperseks karena aku nggak pernah merasa puas. Terus terang, dulu sebelum ketemu papa Wawan, aku sering mempermainkan kemaluanku sendiri untuk mendapatkan kepuasan. Itu pun nggak selalu berhasil. Jadi pa, aku sangat berterima kasih padamu, karena setiap berhubungan dengan papa aku selalu bisa orgasme. Terima kasih pa", katanya lagi sambil mengusap air matanya dan merebahkan diri ke pangkuanku. Sambil menghapus air matanya dengan tangan dan jilatan lidahku, aku menjawab: "Narsih, kamu jangan memujiku berlebihan. Rumput di halaman tetangga selalu kelihatan lebih hijau."

"Ah, nggak juga pa. Aku sudah pernah berpacaran dengan orang lain, dengan teman sekolah ketika di sekolah perawat dulu, atau dengan mas Totok tetangga di depan rumah itu. Semuanya nggak ada yang punya sikap seperti papa. Juga, maaf, aku mau terus terang lagi, aku sudah pernah main seks ketika berpacaran dengan mas Totok beberapa kali, tapi toh aku belum pernah merasa puas seperti yang kualami dengan papa.", jawabnya. Aduh, senangnya bukan main aku mendengar kata-kata Narsih seperti itu.

Rambut Narsih kuelus dengan lembut. Narsih masih berbaring dipangkuanku di sofa. Malam makin larut dan dingin. Birahiku timbul kembali. Dengan perlahan kuelus susu Narsih dibalik daster yang tak berBH itu. Narsih pun menggeliat. Dadanya diangkat dan bibirnya direkahkan ingin kucium. Tak ayal kusambut bibirnya yang basah itu, dan kulumat dengan penuh nafsu birahi. Tali dasternya kembali kubuka dan susunya kuremas-remas. Tanganku yang lain menyusur kakinya ke atas dan ketika sampai di lipatan vaginanya, jariku kuelus kedalam liangnya yang sudah kembali basah dan licin. Sebaliknya Narsih mulai mencari kontolku dibalik celana kolor yang kupakai. Tangannya dimasukkan ke balik kolor itu, dan kontolku mulai dipermainkannya dengan trampil. Aku tak tahan, lehernya kucium. Narsih mengerang lagi seperti biasanya, "Aaaachhhh paaaaah ... eeecch ..ssh ...". Mendengar itu aku makin panas, seluruh lehernya kujilat, dan kuberi cupang merah di bagian kiri lehernya. Aku berani memberi cupang, karena toh selama seminggu ini Narsih pasti nggak akan ketemu suaminya.

Narsih menarik kontolku keluar dari kolor, kemudian diciumnya kontolku dan dijilat-jilat setengah dikulum. Kenikmatan mulai terasa. Narsih mulai pintar mengulum kontol. Aku segera berputar mengarahkan mulutku ke vagina Narsih dan sambil kontol masih tetap dikulumnya. Tanpa melepas dasternya lidahku kujulurkan ke tempik Narsih, dan kuisap liangnya yang berlendir itu. Narsih melepas isapan pada kontolku mengerang, "Paaaah, aaaarrrgghhh paaah ... eeenaaaak paaaah ....". Tak kupedulikan erangannya, kucari kelentitnya dan kuisap pula, sambil satu jariku kumasukkan ke vaginanya untuk mengorek dinding dalam depannya. Narsih menggeliat tak teratur dan makin menjerit, "Paaah ... sudaaaah paaaah ... aku nggaaaak kuuuaaaat .... Suuudaaaah ...". Rupanya dia terangsang hebat. Aku masih tak peduli. Korekan jariku kuteruskan ritmis, dan mulutku berpindah ke paha dalamnya, kujilat-jilat menyusuri sepanjang paha ke atas bawah dan sedikit kugigit kecil. Gelinjang Narsih makin menghebat, kontolku sudah dilepas, dan tangannya meremas kuat kain pinggiran sofa, "Aaach paaa, aaaayooo paaah... masukkan saja, aku nggak tahaaan ... paaaah ...".

Kasihan juga mendengar erangannya itu, kuputar tubuhku sambil melepas t-shirt dan kolorku (terasa sekali dinginnya hawa pegunungan), Narsih pun membuang dasternya. Di sofa itu pula kulebarkan paha Narsih, kumasukkan kontolku tanpa ampun ke tempiknya. Narsih mendesah kenikmatan, juga aku, "Ssshhhhh, Narsiiiih ...".

"Paaaah ... aku jangan ditinggal ya paaaah ... papah masih sayang Narsih paaaaah? .... Oooooccchhhh iiiichh ...", desah Narsih sambil pantatnya diangkat sehingga kontolku makin tandas masuk ke dalam tempiknya yang sempit enak itu. "Yaa Siiiih, aakuu ... aakuu maakiin sayaaang kamuu ... kamu eeenaaaak ... ". "Paaapaaah ....".

Aku yakin erangan Narsih terdengar di luar karena begitu kerasnya tak terkendali.

Posisiku sedikit kuubah, aku agak duduk dengan satu kaki kutaruh di lantai dan kaki lain kutekuk lutunya, pantat Narsih sedikit kuangkat dan kutahan dengan tangan. Gerakan kontol kukontrol penuh dengan memaju-mundurkannya dibantu tanganku yang memaju-mundurkan pantat Narsih. Aku bisa melihat masuk-keluarnya kontolku di tempik Narsih. Karena sempitnya tempik Narsih, maka ketika setiap kontolku kutarik keluar, bibir depan vagina Narsih ikut tertarik keluar. Begitu seterusnya. Pemandangan asyik itu jelas makin menaikkan birahiku ke ubun-ubun. Narsih makin terengah-engah. Jeritannya makin menjadi-jadi, "Oooooiiichhh paaaah, ayo cepet paaah, goyang cepeeet paaaah ....". Tangan Narsih makin mencengkeram kuat pinggiran sofa menahan birahi. Tangan kiri kupakai meremas susunya yang bergoyang-goyang indah. Narsih menggeliat dan merintih, mulutnya terus mendesis dan matanya terpejam. Kepalanya mulai bergoyang juga. Aku kembali merebahkan dadaku padanya, dan kuhangatkan tubuhnya, kedua tangannya sekarang mencengkeram punggungku, tanganku ikut melingkari punggungnya. Kontolku terus kukocok sambil kugeserkan pangkalnya ke kelentit yang terasa menegang. Keringat kami mulai bercucuran, sehingga melicinkan gesekan kulit dari dada sampai ke pubis. "Aaadduuuuh paaaah, kamuu ... eeeenaaak .... Paaaah ...". "Kamu juga Siiiiih ...".

"Aaaayooo paaaah bikinkan anak paaaaah ..... aaakuuu pingin anaaaak paaaah ...". "He'eeh Siiih ... kubikinkan anak Siiih ...".

Narsih memindahkan tangannya dari punggungku, ganti dia pegang kedua paha belakangnya dengan kedua lutut ditekuk, sehingga selangkangannya terbuka lebar-lebar. Dia rupanya sudah begitu enak menikmati permainan itu. Tempiknya terus digoyang-goyang. "Paaaah .... Aaakuuu eeenaaakk sekali .... Teruuuus paaaah .... gooooyaaang Narsih teeeruuuus paaaah ... ooooccchh ... Yaaa ... aaampuuuuuun .... oooooooocchhhh .... "

Tapi, kali ini kontolku agak tahan, belum ada tanda-tanda orgasme. Masih di sofa, posisi Narsih kubalik, dia di atas aku di bawah. Dengan tertelungkup, kedua paha Narsih kulebarkan, dengan satu kakinya menyentuh lantai. Dengan lutut sedikit kutekuk aku masih sanggup mengontrol gerakan. Dengan posisi itu rupanya Narsih lebih enak. Buktinya gerakan kocokan vaginanya makin cepat, aku pun menaik-turunkan kontolku sambil kedua tanganku memaju-mundurkan pantat Narsih. Narsih makin cepat saja bergoyang, "Aaaaaah paaaah ... akuuu muuuulaaaai saaaampaaaai lagiiii paaaah .... ". "Teruskaaaan Siiiih, akuu juga enaaak .... , desisku yang memang merasa enak juga.

"Aaaayoooo paaaah ... paaah aaaakuuuu saaaampaaaai paaaah ....", betul-betul Narsih sudah sampai secepat itu setelah posisinya di atas. Dia menggeliat dan merebahkan seluruh tubuhnya yang berkeringat banyak ke tubuhku, padahal udara sedingin ini. Sayang, aku belum orgasme. "Aaaduuuh paaaaah, aku sampai duluan, padahal papa belum apa-apa. Nggak apa-apa ya pah ...?" "Nggak apa-apa Sih, nanti juga kamu bakal kugarap habis-habisan supaya aku bisa orgasme habis-habisan juga". "Ih, papa jahat ...", katanya tetap di atas tubuhku sambil mencubit pantatku, lalu dia mencium bibirku lembut.

Agar tak kedinginan, kuajak Narsih masuk kamar. Dan kami kembali berselimut sambil tetap bugil berpelukan berhadapan, sekali-sekali berciuman mesra. Tidurlah sayangku, tidurlah ...

Kami tertidur sampai pagi.


Agar dingin tak terlalu menyengat, semua lampu kamar, yang tadi malam hampir semua kumatikan, kali ini kunyalakan sehingga suasana terang benderang.

Dari kamar mandi kami berpelukan rapat lagi, masih bertelanjang bulat di bawah selimut. Hawa dingin menerobos masuk ke dalam kamar. Hawa seperti ini, ditambah dengan pergesekan tubuh kami yang telanjang, membuat nafsu birahi kembali menggelegak, apalagi pada permainan kedua tadi malam aku belum orgasme, sehingga aku berhasrat melampiaskan 'dendam' di subuh yang sangat dingin ini.

Aku mulai menciumi bibir Narsih sambil menggeser-geserkan dada kami yang telanjang, selangkangan kami saling bergesekan, kontolku langsung bersentuhan dengan bibir vaginanya, sehingga kontolku terbangun kembali dengan sempurna. Narsih juga sudah terangsang, lidahnya mulai mencari langit-langit mulutku. Tanpa sadar selimut kami sudah terjatuh sehingga tubuh-tubuh bugil kami tak tertutup apa-apa lagi. Ketika kulihat cermin besar di sepanjang lemari dinding, makin menggelegaklah nafsuku, melihat tubuh-tubuh bugil kami yang saling berpelukan tertampang jelas di cermin itu. Narsih melihat itu agak tersipu, tapi rupanya dia juga makin terangsang, buktinya, lipatan selangkangannya makin digesekkan pada selangkanganku yang kontolnya sudah ngaceng.

Aku menindihnya kembali sambil terus menggesekkan bagian tubuh kami, rasanya enak, apalagi udara begitu dingin. Narsih sudah mengangkangkan pahanya lebar-lebar. Aku gesekkan terus kontolku ke permukaan bibir tempiknya. Cukup lama. Narsih sudah merintih. "Paaah .... Masukkan saja paaah ....". Tanpa kulakukan manipulasi lagi pada susu, tempik dan kelentit, birahi Narsih sudah sampai di puncak. Udara dingin itulah rupanya yang menyebabkannya.

Segera saja kumasukkan kontolku pelan-pelan ke dalam tempiknya yang sudah basah (betul juga, Narsih sudah terangsang berat). Dan agar agak sensasional, aku bergeser sambil memegangi pantat Narsih agar kontolku tak terlepas dari vaginanya, lalu kusandarkan punggungku pada pinggir bagian kepala tempat tidur sedikit terduduk, kakiku kuselonjorkan, sehingga Narsih duduk di pangkuanku dengan kontolku terbenam pada tempiknya. Narsih kuminta bergerak maju-mundur yang kubantu dengan gerakan tanganku pada pantatnya. Sementara mulutku menjilati kedua puting susunya yang persis ada di depan wajahku. Narsih, lagi-lagi mulai mendesis, "Ooooooh paaaah .... Aaaaduuuh ..... ". Sementara kami bergoyang maju-mundur, kulirik cermin besar di lemari dinding. Aduh, menggairahkan sekali. Kira-kira kalau adegan ini difilmkan, rasanya akan laku keras, sebab si wanitanya manis dan begitu seksi dengan tubuh yang merangsang nafsu lelaki mana pun. Gerakannya pun pasti membuat siapa pun akan tidak tahan lama untuk segera ejakulasi.

"Narsih, lihat itu di cermin, kamu seksi banget ...", kataku. Narsih melihat cermin, dan tanpa kuduga, dia melenguh dan mempercepat gerakan maju-mundurnya yang disertai gerakan memutar permukaan pubis atasnya agar kelentitnya langsung bergesekan dengan pangkal kontolku, tangannya makin erat merangkul leherku, "Aaaaaah paaaah ... aaaaah .... Iiiichhh paaaah ...". Mungkin akibat melihat bayangan menggairahkan di cermin itu, Narsih tambah bernafsu. Aku ikut memutar pinggulku sehingga pangkal kontolku bisa bergesekan langsung dengan permukaan kemaluan Narsih bagian atas. Aku merasakan betapa nikmatnya posisi ini. Tanpa sadar aku telah mencupang beberapa tempat di sekitar pentil susu Narsih, baik susu kanan mau pun kiri. Biarin, pikirku. Beberapa cupang merah-biru di tubuh Narsih makin membuat nafsuku meninggi. Tambah seksi dan hot.

"Aaah, Narsiiiih .... Kamu hebat!".

"Papah yang hebat ... ooooooh paaaah .....", erang Narsih.

Posisi ini tak bertahan terlalu lama, karena membutuhkan enersi yang cukup besar. Narsih kubaringkan kembali miring membelakangiku menghadap cermin lemari dinding. Lalu, selangkangannya kurenggangkan lebar, dan kontolku kumasukkan dari belakang. Bayangan di cermin makin membuatku bernafsu, sebab dari cermin itu kami bisa melihat keluar masuknya kontolku ke tempik Narsih. Tanganku yang bebas kupakai untuk meraba dan menggesek-gesek kelentit Narsih, sedang mulutku melumat leher samping dan telinganya. Merasakan perlakuan yang makin merangsangnya itu, Narsih tanpa sungkan berteriak keras di pagi subuh itu, "Oooooiiihhhhh paaaaah, aaaakuuuu eeeenaaaak paaaaaaaaaah ...... paaaaah eeenaaaak ..... masukkan semuaaanyaa paaaaah .... seeemuuuaaaaa ...".

"Siiiih ... aakuuu cinta kamuuu Siiiih .... Hhhh hhhhhhehhh ...", bibirku mendesis keenakan.

"Iiiyaaaa paaaah .... Aaaakuuuu ciiintaaaa paaaapaaah ... akuuuu cintaaa ... oooooochhhh ... paaah".

Dari leher, lidahku turun ke punggung, kujilati dan kugigit yang bisa kugigit. Punggungnya menjadi merah-merah juga. Kali ini hampir seluruh bagian tubuh Narsih terlukis bekas gigitan dan cupangku merah-biru. Di leher ada cupang di bagian depan dan samping , di daerah susu kanan dan kiri, di pangkal paha bagian dalam, di punggung atas dan tengah. Saya nggak tahu bagaimana nanti Narsih menyembunyikan cupang yang ada di lehernya dari penglihatan teman-teman sepelatihannya di Mg.

"Paaaah, aaaakuuuu saaaampaaaai laagiii ... paaaaah .... Ooooooh ... aaaah ... paapaaaah ...", tiba-tiba dia mendesah keras sambil menggelinjang meregang. Lemas. Oh, Narsih sudah orgasme duluan, padahal rasanya aku hampir juga.

Aku tidak mau kehilangan momentum lagi untuk orgasme, aku ingin secepatnya orgasme juga. Maka, tak peduli Narsih sudah lemas karena orgasmenya, dia kuangkat dan kubaringkan telentang ke atas tubuhku dalam posisi membelakangiku. Kontolku yang masih tegang tetap menerobos tempiknya dari belakang. Narsih yang sudah lemas itu kukocok tempiknya dengan kontolku yang makin liar. Aku lihat bayangan di cermin, makin asyik adegan itu, terlihat betapa indahnya tubuh Narsih di atas tubuhku telentang sambil susunya kuremas dari belakang dan kontolku masuk maju-mundur dari belakang, kepala Narsih terkulai ke belakang dengan jari-jari meremas seprei kasur, sambil mulutnya kulumat dengan mulutku dari samping. Ah, menggairahkan sekali ...

Narsih hanya bisa bergumam lirih, "Hhhhhehhh hhhh sssshh .... Paaaah ... paaaah ... aku nggaaak kuuuaaaat paaaah ....". Kurasakan tempiknya berdenyut-denyut, sehingga kontolku pun merasakan enaknya dipijat-pijat.

Remasan tangannya pada seprei makin menguat, sampai seprei itu tertarik. Dalam hatiku, apakah Narsih mulai bernafsu kembali?

Ternyata benar, pantatnya digerakkan maju-mundur sehingga kontolku seperti diperas-peras, "Oooooh eeenaaaak Siiiih .... Betul begitu Siiiih ....". Narsih makin bergoyang tidak hanya maju mundur, juga berputar-putar. Sementara kontolku bergerak dari belakang, tanganku mengucek klitorisnya lagi dari depan. Terus kuucek. Narsih menggelinjang kembali dengan kerasnya, seprei makin tertarik. "Ooooooh paaaah ... kamu jaaahaaaat paaaah .... Eeeenaaaak paaaah .... Oooooh ....".

Aku sudah mulai tak tahan. Rasa geli sudah melanda sekujur tubuhku. Akhirnya aku mendesah keras ketika air maniku memuncrat ke dalam tempik Narsih, "Naaaaarsiiiiih ... aakuuuu keluuuaaaar ..... hhhheh hhhhh ....". Narsih juga ikutan meregang dan mendesah, "Paaaah .... Aaaakuuuu juuugaaaa .... Oooooooohhhhh .... Terima kasih paaaah ....".

Kedua tubuh kami melemas tak bertenaga lagi. Kontolku lepas dengan sendirinya dari tempik Narsih, sementara masih memuncratkan spermanya di luar sehingga membasahi jembut dan paha Narsih, juga meleleh di seprei.

Segera Narsih kubaringkan ke sampingku dan kupeluk lagi erat-erat sambil kuciumi dahi, pipi dan bibirnya dengan rasa sayang yang tak terhingga. Semalaman ini aku telah merasakan kenikmatan yang tak ada taranya.

Hari sudah mulai terang ...

Sepagian kami bercengkerama dan bercumbu sambil menikmati pemandangan alam sekitar lewat jendela kamar yang kubuka lebar-lebar. Beberapa kali di hari itu kami bergelut memadu cinta sepuasnya. Dan siangnya, setelah matahari mulai turun, Narsih dengan berat hati kuantar ke terminal bus kembali ke Mg.

Bersambung ke PERAWATKU YANG HITAM MANIS (#4)

 

Pengirim: resender (resender@yahoo.com)

 

Penilaian Pembaca: Bagus = 50%, Cukup = 50%, Jelek = 0%

 

     
<PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>11                                                          </PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>